February 24, 2026

Pengobatan COVID-19 menggunakan “Imunomodulator” : Sebuah Alternatif yang Lebih Aman dan Efektif ?

0
nk

Pandemi COVID-19 berlangsung dari akhir tahun 2019 hingga kini. Dengan naik-turunnya jumlah kasus COVID-19, para ilmuwan maupun dokter terus mencari suatu cara agar tubuh manusia dapat melawan virus SARS-CoV-2 dengan efektif. Salah satu solusi yang memungkinkan adalah imunomodulator. Imunomodulator merupakan obat-obatan yang memodifikasikan respons sistem imun dengan cara meningkatkan atau menurunkan produksi antibodi. Dengan COVID-19 yang menyerang sistem imun tubuh manusia, maka para ilmuwan mencari tahu apakah penggunaan imunomodulator sebenarnya efektif atau tidak dalam melawan virus SARS-CoV-2. Dengan uji klinis yang dilakukan oleh beberapa ilmuwan di seluruh dunia, sebenarnya, penggunaan imunomodulator efektif dalam membantu pasien-pasien COVID-19 melawan virus SARS-CoV-2.

 

Peran Imunomodulator pada Sistem Imun Tubuh Manusia

Imunomodulator memiliki peran penting dalam memodifikasi sistem imun tubuh manusia. Terdapat dua tipe imunomodulator yaitu imunostimulator dan imunosupresan. Imunostimulator diberikan untuk meningkatkan respons imun untuk melawan penyakit-penyakit menular, tumor, imunodefisiensi, dan alterasi di transfer antibodi. Sementara, imunosupresan digunakan untuk menurunkan respons imun terhadap transplantasi organ dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit autoimun seperti pemfigus, lupus, atau alergi. Contoh imunostimulator adalah interferon yang memicu sel-sel imun untuk melawan patogen-patogen yang ada pada tubuh untuk menghilangkan infeksi dengan cara masing-masing tipe interferon. Sedangkan, contoh imunosupresan adalah inhibitor interleukin-1 yang mengikat kepada interleukin-1 atau reseptor interleukin-1 sehingga sinyal dari interleukin-1 tidak dapat sampai ke sel-sel lain (Bascones-Martinez, dkk., 2014). Berdasarkan informasi-informasi tersebut, efektivitas imunomodulator terlihat sangatlah tinggi dalam memodifikasi sel-sel imun sehingga berpotensi untuk melawan virus SARS-CoV-2 yang menyerang sistem imun tubuh manusia.

 

Efektivitas Penggunaan Imunostimulator bagi Pasien-pasien COVID-19

Interferon, sebuah tipe imunostimulator, menunjukkan efektivitas yang tinggi untuk melawan COVID-19. Pada suatu uji coba, penggunaan interferon menunjukkan berbagai macam keuntungan seperti percepatan jangka waktu untuk mendapatkan hasil tes negatif, penurunan tingkat mortalitas, dan peredaan gejala-gejala. Namun, sebenarnya ada beberapa juga yang tidak mengalami perubahan (Rizk, dkk., 2020). Pada percobaan yang lebih baru, interferon menunjukan percepatan pembersihan virus di dalam tubuh dan juga mengurangi jangka waktu untuk membaik secara klinis. Efek sampingnya juga minimal, hanya mual dan masalah pencernaan sementara (Jhuti, dkk., 2022). Maka dari itu, interferon memiliki suatu peluang yang tinggi dalam membantu manusia untuk sembuh dari penyakit COVID-19.

 

Efektivitas Penggunaan Imunosupresan bagi Pasien-pasien COVID-19 yang Memiliki Penyakit Autoimun

Inhibitor JAK adalah suatu tipe imunosupresan yang menunjukkan efektivitas tinggi dalam melawan COVID-19 bagi pasien-pasien yang memiliki penyakit autoimun. Sebuah percobaan menggunakan inhibitor JAK menunjukkan hasil jangka waktu pemulihan yang memendek, tingkat mortalitas menurun, dan tingkat oksigenasi membaik. Namun beberapa hasil menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dan bahkan memunculkan sindrom-sindrom seperti purpura (Rizk, dkk., 2020). Tentu saja ini dianggap tidak efektif dan bahkan membahayakan. Akan tetapi, studi yang lebih baru menemukan efektivitas yang cukup baik menggunakan salah satu tipe inhibitor JAK yaitu baricitinib. Penggunaan imunosupresan tersebut menurunkan jangka waktu sembuh dari COVID-19 secara klinis, yang berarti hasil tes sudah negatif dan virus SARS-CoV-2nya sudah tidak terdeteksi di dalam tubuh (Meyerowitz, dkk., 2021). Akan tetapi, harus tetap diingat bahwa penggunaan imunosupresan terkhusus untuk orang-orang yang memiliki penyakit autoimun. Maka dari itu agak sulit bagi para ilmuwan untuk menentukan dengan pasti alasan inhibitor JAKnya berguna atau tidak karena ada faktor penyakit autoimun tersebut. Meskipun demikian, sangatlah bahaya apabila pasien autoimun terjangkit virus SARS-CoV-2 karena tingkat mortalitasnya tinggi. Dengan harapan bahwa ada suatu cara untuk menurunkan tingkat mortalitas tersebut, seharusnya para ilmuwan maupun tenaga kesehatan mencoba fokus kepada penggunaan inhibitor JAK ini untuk membantu para pasien.

Maka, dapat disimpulkan bahwa penggunaan imunomodulator efektif dalam membantu pasien-pasien COVID-19 melawan virus SARS-CoV-2. Jika digunakan, imunomodulator berperan sangat besar dalam sistem imun tubuh manusia sehingga dapat memodifikasi sel-sel imun dalam tubuh manusia. Kedua tipenya, yakni imunostimulator dan imunosupresan, bahkan menunjukkan efektivitas penggunaannya dibandingkan dengan pengobatan massal yang dilakukan oleh banyak rumah sakit saat ini. Akan tetapi, dibandingkan dengan pengobatan massal yang telah diuji coba beberapa kali, pengobatan menggunakan imunomodulator masih sangatlah sedikit sehingga di masa yang akan datang mungkin akan ada data baru yang muncul. Data tersebut dapat mengubah persepsi terhadap penggunaan imunomodulator ini. Oleh karena itu, seharusnya Indonesia sendiri juga mencoba untuk menguji efektivitas imunomodulator agar dapat mengetahui apakah penggunaannya sebenarnya lebih baik atau tidak dibandingkan pengobatan konvensional.


Kontributor : Saya Felicia Cordelia Ruslim


 

Daftar Pustaka

Bascones-Martinez, A., Mattila, R., Gomez-Font, R., & Jukka H. Meurman. (2014). Immunomodulatory drugs: Oral and systemic adverse effects. Med Oral Patol Oral Cir Bucal., 19(1), 24-31.

Jhuti, D., Rawat, A., Guo, C. M., Wilson, L. A., Mills, E. J., & Forrest, J. I. (2022). Interferon Treatments for SARS-CoV-2: Challenges and Opportunities. Infect Dis Ther., 11(3), 953-972.

Meyerowitz, E. A.,  Sen, P., Schoenfeld, S. R., Neilan, T. G., Frigault, M. J., Stone, J. H., Kim, A. Y., & Mansour, M. K. (2021). Immunomodulation as Treatment for Severe Coronavirus Disease 2019: A Systematic Review of Current Modalities and Future Directions. Clinical Infectious Diseases, 72(12), 1130-1143.

Rizk, J. G., Kalantar-Zadeh, K., Mehra, M. R., Lavie, C. J., Rizk, Y., & Forthal, D. N. (2020). Pharmaco-Immunomodulatory Therapy in COVID-19. Drugs, 80 (14), 1267-1292.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *