Gejala Khas Virus Ebola Langka yang Ancam Dunia, Mulai Demam Hingga Nyeri Otot !
Wabah virus Ebola varian langka Bundibugyo yang kini menyebar di Republik Demokratik Kongo (DRC), Afrika Tengah, mulai menjadi perhatian dunia. Selain tingkat kematiannya yang tinggi, virus ini juga memiliki gejala yang kerap menyerupai penyakit umum sehingga berisiko terlambat terdeteksi.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.000 kasus Ebola dengan sedikitnya 220 kematian terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Varian Bundibugyo diketahui menjadi penyebab utama wabah tersebut.
Menjadi pertanyaan sekarang, apa gejala khas dari infeksi Ebola varian langka ini? Simak informasi selengkapnya hanya di artikel ini.
Menurut laporan Daily Mail, gejala awal Ebola varian Bundibugyo umumnya mirip flu berat. Pasien biasanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, hingga menggigil.
Selain itu, penderita juga dapat mengalami muntah, diare, sakit tenggorokan, dan gangguan pencernaan. Pada beberapa kasus, kondisi pasien berkembang cepat menjadi lebih parah.
Dalam fase lanjut, virus Ebola dapat memicu pendarahan internal, kerusakan organ, hingga gagal organ yang berujung kematian. Tingkat kematian varian Bundibugyo dilaporkan bisa mencapai 50 persen.
Hal yang membuat virus ini berbahaya adalah masa inkubasinya yang cukup panjang. Seseorang dapat membawa virus hingga 21 hari sebelum gejala muncul dan diyakini sudah dapat menularkan infeksi kepada orang lain.
Penularan Ebola terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, muntahan, air liur, keringat, hingga jenazah pasien yang terinfeksi.
Karena itu, WHO meminta masyarakat di wilayah terdampak untuk menghindari kontak langsung dengan pasien serta mengikuti prosedur kesehatan saat pemakaman korban Ebola.
Saat ini, para ilmuwan dari Universitas Oxford juga tengah mengembangkan vaksin khusus untuk varian Bundibugyo. Namun vaksin tersebut diperkirakan masih membutuhkan waktu beberapa bulan sebelum bisa diuji pada manusia.
Direktur Jenderal WHO dr Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa laju penyebaran wabah kini lebih cepat dibanding upaya pengendalian di lapangan.
Sejumlah negara kini memperketat pengawasan kesehatan di bandara dan pintu masuk internasional untuk mencegah penyebaran virus ke luar Afrika.
